Dolar AS Perkasa, Rupiah dan Mata Uang Negara ASEAN Lain Kompak Melemah
Untuk kawasan Asia Tenggara, rupiah Indonesia berada di level Rp 17.785 per dolar AS atau melemah 0,05%. Pelemahan juga terjadi pada mata uang regional lain seperti ringgit Malaysia dengan US$/MYR di level 3,9750 atau naik 0,38%.
Dolar AS juga menguat terhadap baht Thailand dengan posisi US$/THB di level 32,7000 atau naik 0,37%. Sementara peso Filipina melemah tipis dengan USD/PHP berada di level 61,5600 atau naik 0,10%.
Adapun dolar Singapura turut tertekan terhadap greenback. Pasangan US$/SGD tercatat berada di level 1,2796 atau naik 0,22%. Berbeda dengan mayoritas mata uang Asia, dolar Hong Kong relatif stabil dengan US$/HKD berada di level 7,8327 atau turun tipis 0,01%.
Kombinasi Faktor Internal dan Eksternal Bebani Rupiah
Pegawai menunjukkan mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (5/1/2023). Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp15.616 per dolar AS pada Kamis (5/1) sore ini. Mata uang Garuda melemah 34 poin atau minus 0,22 persen dari perdagangan sebelumnya. (arcadex.my.id/Angga Yuniar)
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi faktor eksternal dan internal yang semakin besar.
“Ya hari ini cukup luar biasa ya terhadap pelemahan mata uang rupiah saat saya membuat satu list ini rupiah sudah melemah 70 poin, yaitu di Rp 17.870. Ada kemungkinan hari minggu, hari besok ya pembukaan pasar besok di hari Jumat rupiah ini akan mendekati level Rp 18.000,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (28/5/2026).
Menurut dia, tensi geopolitik global menjadi salah satu faktor utama yang menopang penguatan dolar AS. Konflik di Timur Tengah dan Eropa Timur dinilai meningkatkan permintaan pasar terhadap aset safe haven.
“Yang pertama tentang masalah geopolitik, ya geopolitik di Timur Tengah semakin memanas, ya dimana Amerika melakukan penyerangan terhadap apa, instalasi yang ada di Iran, ya terutama adalah Iran Selatan,” kata dia.
Lonjakan Harga Minyak
Ilustrasi Harga Minyak Dunia. Foto: AFP
Selain itu, Ibrahim menyebut lonjakan harga minyak dunia juga turut memperburuk tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
“Kemudian ketegangan di Eropa maupun di Timur Tengah ini membuat harga minyak kembali di atas 92 bahkan sekarang di 96 ya untuk WTI,” ucapnya.
Ia menambahkan, faktor domestik seperti tingginya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak, pembayaran dividen, hingga arus modal asing keluar juga turut menekan rupiah. Di sisi lain, ekspektasi suku bunga tinggi Amerika Serikat masih menopang penguatan dolar AS di pasar global.