Pendapatan Global Digital Niaga Tembus Rp 7,8 Triliun

arcadex.my.id, Jakarta – PT Global Digital Niaga Tbk (BELI), pengelola e-commerce Blibli masih membukukan rugi bersih pada kuartal I 2026, tetapi kinerjanya menunjukkan perbaikan signifikan seiring lonjakan pendapatan dan penyusutan rugi operasional.

Mengutip keterbukaan informasi BEI, Kamis (28/5/2026) laporan keuangan per 31 Maret 2026, emiten pengelola platform Blibli ini mencatat pendapatan neto sebesar Rp 7,83 triliun, melonjak 66,9% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 4,69 triliun. 

Meski masih mencatat rugi tahun berjalan sebesar Rp 301,98 miliar, angka tersebut membaik dibandingkan rugi Rp 641,50 miliar pada kuartal I-2025. Rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk juga turun menjadi Rp 303 miliar dari sebelumnya Rp 638,1 miliar.

Di sisi lain, kenaikan pendapatan BELI ditopang pertumbuhan seluruh segmen usaha, terutama penjualan smartphone, bisnis institusi, serta ekspansi toko fisik. Perseroan juga mencatat peningkatan take rate dari 9,0% menjadi 9,9% pada kuartal I-2026.

Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, beban pokok pendapatan naik menjadi Rp 6,65 triliun dari Rp 3,82 triliun. Namun demikian, laba bruto tetap meningkat menjadi Rp 1,18 triliun dibandingkan Rp 874,39 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Dari sisi operasional, rugi usaha berhasil ditekan menjadi Rp 204,20 miliar dari Rp 582,89 miliar. Beban penjualan tercatat sebesar Rp 533,91 miliar, sedangkan beban umum dan administrasi mencapai Rp 281,69 miliar.

Perseroan juga membukukan pendapatan keuangan sebesar Rp 11,38 miliar, namun masih dibayangi biaya keuangan yang meningkat menjadi Rp 69,06 miliar.

 

Aset dan Liabilitas Sama-Sama Naik

Blibli Store hadir di berbagai kota seperti tampak pada foto toko Blibli Store di Central Park Jakarta Barat.

Per 31 Maret 2026, total aset BELI tercatat sebesar Rp 18,63 triliun, meningkat dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp 17,80 triliun. Kenaikan terutama berasal dari aset lancar yang naik menjadi Rp 10,01 triliun.

Kas dan setara kas tercatat sebesar Rp 1,84 triliun, naik dari Rp 1,54 triliun pada akhir Desember 2025. Perseroan menyebut peningkatan kas ditopang aktivitas pendanaan selama periode berjalan. Sementara itu, total liabilitas meningkat menjadi Rp 9,47 triliun dari Rp 8,34 triliun. Liabilitas jangka pendek mendominasi dengan nilai Rp 8,21 triliun, termasuk utang bank jangka pendek sebesar Rp 3,54 triliun.

Di sisi lain, total ekuitas turun menjadi Rp 9,15 triliun dari Rp 9,45 triliun pada akhir 2025 akibat akumulasi defisit yang masih besar.

 

IHSG Anjlok 1,23% Jelang Libur Idul Adha

Pekerja beraktivitas di BEI, Jakarta, Selasa (4/4). Sebelumnya, Indeks harga saham gabungan (IHSG) menembus level 5.600 pada penutupan perdagangan pertama bulan ini, Senin (3/4/2017). (arcadex.my.id/Angga Yuniar)

Sebelumnya, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di zona merah pada perdagangan saham Selasa, (26/5/2026) jelang libur Idul Adha. Koreksi IHSG hari ini terjadi di tengah mayoritas sektor saham memerah.

Mengutip data RTI, IHSG hari ini turun 1,23% ke posisi 6.130,19. Indeks saham LQ45 tergelincir 1,71% menjadi 620,39. Sebagian besar indeks saham acuan memerah.

Pada perdagangan saham Selasa pekan ini, IHSG berada di level tertinggi 6.286,87 dan terendah 6.124,79. Sebanyak 447 saham melemah sehingga menekan IHSG. 241 saham menguat dan 133 saham diam di tempat.

Total frekuensi perdagangan saham 1.964.477  kali dengan volume perdagangan saham 24,9 miliar saham. Nilai transaksi harian saham Rp 18,1 triliun. Posisi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 17.789.

Mayoritas sektor saham tertekan. Sektor saham industri melemah 3,38%, dan catat penurunan terbesar. Sektor saham energi terpangkas 1,04%, sektor saham basic turun 0,89%, sektor saham consumer nonsiklikal tergelincir 1,69%, sektor saham consumer siklikal merosot 2,2%.

Selain itu, sektor saham kesehatan terpangkas 0,63%, sektor saham keuangan melemah 1,52% dan sektor saham properti turun 2,14%. Sementara itu, sektor saham teknologi naik 0,08%, sektor saham infrastruktur bertambah 0,18% dan sektor saham transportasi menguat 0,06%.

Di sisi lain, harga saham SSIA ditutup turun 3,24% menjadi Rp 1.645 per saham. Harga saham SSIA dibuka naik 15 poin menjadi Rp 1.715 per saham. Saham SSIA berada di level tertinggi Rp 1.765 dan terendah Rp 1.640 per saham. Total frekuensi perdagangan 4.877 kali dengan volume perdagangan saham 219.870 saham. Nilai transaksi harian saham Rp 38,6 miliar.



error: Content is protected !!