arcadex.my.id, Jakarta – Pendiri JD.com, Liu Qiangdong atau dikenal sebagai Richard Liu berjanji untuk mencegah 900.000 karyawan perusahaan e-commerce itu kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi. Hal ini untuk meredakan kekhawatiran yang semakin meningkat kalau adopsi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dan robotika dapat menggantikan karyawan.
Mengutip Strait Times, ditulis Jumat (29/5/2026), JD.com yang merupakan salah satu perusahaan dengan jumlah karyawan terbesar di China akan melakukan segala upaya untuk melindungi pekerjaan bagi ratusan ribu staf termasuk pekerja kerja biru. Demikian disampaikan Liu dalam pidato internal pada 27 Mei berdasarkan video di media sosial.
“JD.com tidak akan memecat satu pun pekerja lini depan yang digantikan oleh mesin,” ujar dia.
JD tidak menanggapi permintaan komentar melalui email.
Perusahaan-perusahaan China berlomba-lomba menerapkan sistem AI sebagai bagian dari dorongan yang diarahkan negara untuk mendominasi teknologi baru ini. Namun, perintah-perintah tersebut menghadirkan tantangan bagi para perencana Partai Komunis China, yang ingin menjaga stabilitas pasar tenaga kerja di tengah perlambatan ekonomi dan tingginya angka pengangguran kaum muda di negara tersebut.
JD, yang mempekerjakan staf mulai dari kurir dan petugas toko hingga pelatih AI dan teknisi perawatan robot, sedang bereksperimen dengan sejumlah teknologi tanpa awak.
Menurut pengajuan baru-baru ini, teknologi tersebut termasuk “gudang tanpa awak, pengiriman drone, kendaraan otonom, stasiun pengiriman tanpa awak, dan toko serba ada, di antara lainnya.”
Ketentuan Pemerintah China
Ilustrasi bendera Republik Rakyat China (AP/Mark Schiefelbein)
“Peritel daring ini juga telah mendirikan lebih dari 80 basis pelatihan di seluruh negeri, dengan mengatakan bahwa basis-basis tersebut akan berfungsi untuk melatih kembali para pekerja dengan keterampilan seperti perawatan dan servis sistem otomatis,” ujar Liu.
Komentar Liu muncul setelah pengadilan China memutuskan pada akhir April perusahaan tidak dapat memberhentikan karyawan atau memotong gaji hanya untuk mengganti mereka dengan sistem kecerdasan buatan.
Pada 2025, pemerintah China juga menetapkan perusahaan secara hukum wajib melatih ulang atau menugaskan kembali pekerja sebelum mereka dapat diberhentikan, sebuah pengamanan awal terhadap penggantian pekerjaan oleh AI yang jarang diterapkan oleh negara lain.