arcadex.my.id, Jakarta – Head of Strategic Operations Coala Pay, Alejandro Guzman menilai, stablecoin telah menjadi jalur penyelesaian lintas batas paling andal untuk penyaluran bantuan paling sulit di dunia. Tanggapan Alejandro Guzman itu disampaikan setelah tiga tahun beroperasi di koridor perbankan yang terbatas dengan badan-badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).
Mengutip Yahoo Finance, ditulis Jumat (28/5/2026), Guzman merupakan veterean PBB selama 15 tahun yang penugasannya meliputi Sudan Selatan, Somalia dan Afghanistan. Adapun Coala Pay didirikan oleh mantan pekerja bantuan gariis bantuan.
“Apa yang benar-benar telah kami buktikan, khususnya melalui infrastruktur stablecoin, adalah stablecoin sebagai instrument penyelesaian lintas batas merupakan solusi luar biasa untuk mengatasi koridor perbankan yang terbatas,” kata dia saat wawancara dengan TheStreet Roundtable.
Orang-Orang yang Membutuhkan Bantuan Seringkali Tak Dapat Menerimanya
Sektor bantuan telah bergeser dari bantuan berupa barang yakni makanan, persediaan ke bantuan tunai selama dekade terakhir, yang menjadikan infrastruktur pembayaran sebagai pusat dari setiap operasi.
Adapun klien Coala Pay adalah badan-badan PBB dan organisasi non-pemerintah (LSM) internasional yang menangani operasi perbendaharaan di hingga 180 negara termasuk Sudan, Yaman, Suriah dan Afghanistan.
“Koridor perbankan dan jaringan perbankannya sebagai infrastruktur penyelesaian dan sikap kepatuhan mereka secara alami tidak dibangun untuk sektor bantuan,” ujar Guzman.
Bahkan ketika pengecualiaan sanksi ada di bawah Kantor Pengawasan Aset Asing atau Office of Foreign Assets Control (OFAC) atau Dewan Keamanan PBB, tim kepatuhan bank secara rutin menolak untuk memproses pembayaran.
Contohnya Afghanistan. Guzman tiba di Afghanistan enam minggu setelah penarikan AS pada 2021. Guzman, salah satu warga negara asing pertama yang kembali ke negara itu.
Sulit Tarik Dana
Ilustrasi Stablecoin. (Foto by AI)
Ia berada di sana untuk memastikan dana perwalian multi negara senilai US$ 4 miliar-US$ 5 miliar atau setara Rp 71,32 triliun-Rp 89,16 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.830) didistribusikan dengan benar. Bantuan itu ditujukan untuk klinik kesehatan, sekolah dan kebutuhan dasar bagi lebih dari 20 juta orang. Dana itu tersimpan dalam rekening perbendaharaan fiat di bank-bank besar di New York dan Jenewa.
“Koridor perbankan benar-benar ditutup, sepenuhnya, kotak hitam, tidak ada apa pun, tidak ada pengecualiaan. Kita memiliki rezim pengecualiaan sanksi yang diatur di bawah OFAC dan di bawah Dewan Keamanan PBB yang memungkinkan Anda untuk melakukannya secara legal, tetapi tim kepatuhan perbankan cenderung hanya mengatakan tidak sepadan dengan risikonya,” kata Guzman.
“Jika saya bisa kembali ke masa lalu sekarang dan mengembalikan satu stablecoin, smart contract atau kontrak pintar dan infrastruktur pembayaran digital ke 2021,” dia menambahkan.
Solusi Stablecoin
ilustrasi Stablecoin. (Foto by AI)
Coala Pay dibangun sepenuhnya di atas infrastruktur stablecoin. Ia menuturkan, ini adalah satu-satunya hal yang secara konsisten berhasil di koridor yang terbatas. Proyek percontohan telah mulai menghasilkan.
Di Suriah, program stablecoin Mercy Corps telah memangkas waktu pengiriman hingga 96%, sekaligus menurunkan biaya hingga 60%.
Proyek percontohan terpisah di Afghanistan dengan Hesabpay yang menggunakan stablecoin lokal yangn dipatok ke dolar, Afghanistan memangkas biaya pengiriman sebesar 29 persen dan mengurangi waktu pembayaran hingga 10 jam, dengan 98 persen peserta lebih memilih pembayaran stablecoin ketimbang uang tunai.
Di sisi lain, the World Food Programme dan the UN Refugee Agency atau Program Pangan Dunia dan Badan Pengungsi PBB kini telah memindahkan sebagian dana ke stablecoin yang didenominasi dolar AS.